EN | ID
Journal

Mengenal Ngengat Terbesar Di Dunia

06 April 2019 Category Jurnal

Author:

Read: 369

Attacus atlas dikenal sebagai ngengat terbesar di dunia berdasarkan luas permukaan sayapnya yang dapat mencapai ukuran 400 cm2 [1]. Spesies ini pertama kali dijelaskan oleh Carolus Linnaeus dalam Sistema Naturae edisi ke-1758. Ngengat jenis ini merupakan serangga endemik Asia Tenggara, India dan Cina. Di Indonesia, penyebarannya hampir di seluruh wilayah meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua [2]. Berikut ini merupakan klasifikasi Attacus atlas:

Kingdom  : Animalia

Kelas       : Insekta

Ordo        : Lepidoptera

Famili       : Saturniidae

Genus       : Attacus

Spesies     : Attacus atlas  

Wilayah penyebaran yang cukup luas baik bagian tropis maupun subtropis di berbagai negara membuat ngengat ini memiliki nama yang bervariasi. Dimulai dari sebutan kupu-kupu gajah, ngengat atlas dan ngengat kepala ular. Merujuk pada ukurannya yang besar, ngengat ini dinamai kupu-kupu gajah. Dalam bahasa inggris, Attacus atlas disebut ngengat atlas karena dikaitkan dengan tokoh mitologi yunani yang menopang langit di bahunya, Atlas dan juga karena pola-pola di sayapnya menyerupai peta. Dalam bahasa orang Kanton (Cantonese), sebutan untuk ngengat ini dapat diartikan sebagai ngengat kepala ular, merujuk pada pola di ujung sayap depan yang mirip kepala ular [3].

Attacus atlas dewasa aktif di malam hari (nokturnal), bersifat polivoltin, yaitu dapat hidup lebih dari dua generasi dalam satu tahun [4]. Attacus atlas pada fase larva termasuk serangga polifagus yang dapat memakan 90 golongan tumbuhan dari 48 famili seperti daun sirsak (Annona muricata), dadap (Erythrina sp), alpukat (Persea americana), teh (Camelia sinensis), cengkeh (Zingiber purpureum), keben (Barringtonia asiatica) dan jambu biji (Psidium guajava) [5]. Namun, saat dewasa ngengat ini tidak mempunyai mulut. Mereka hidup dari cadangan energi yang diperoleh saat berada pada fase larva. Hal ini mengakibatkan masa hidup imago Attacus atlas pendek, umumnya hanya 5 sampai 7 hari.

Siklus Hidup Attacus atlas

Attacus atlas mengalami metamorfosis sempurna (holometabola) yang dimulai dari fase telur - larva - pupa - imago [6]. Telur dihasilkan oleh ngengat betina dewasa (imago) baik secara seksual maupun aseksual, namun telur yang dapat menetas adalah telur yang telah dibuahi. Imago  betina  yang  tidak melakukan  perkawinan  akan  menghasilkan  telur  infertil  yang  tidak  menetas  menjadi larva [2]. Telur infertil ini berwarna kuning pucat. Sementara itu, Imago betina  yang  telah  kawin  akan  bertelur  setelah  beberapa  jam  dan  akan  menghasilkan telur sebanyak 100 sampai 360 butir. Telur yang dibuahi (fertil) berwarna cokelat gelap. Telur-telur ini hampir selalu ditutupi oleh cairan kental berwarna merah kecokelatan yang disekresikan oleh ngengat betina agar telur dapat menempel pada substrat. Selanjutnya, pada tahap larva, Attacus atlas akan melalui 6 tahapan instar. Pada setiap masing-masing tahapan instar, larva akan mengalami perubahan ciri-ciri, ukuran dan tingkah laku sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan larva. Pergantian masa instar ditandai dengan pergantian kulit (molting) pada larva instar pertama sampai instar keenam. Kemudian, saat larva instar keenam mengeluarkan cairan sutera, dimulailah pembentukan kokon yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Cairan sutera yang dikeluarkan oleh instar enam  berfungsi  sebagai  alat  untuk  melekatkan  kokon  pada  daun  atau  ranting. Larva akan meneruskan pembuatan kokon sampai sempurna. Setelah masa pupasi berakhir, biasanya pada siang hari imago Attacus atlas akan menetas. 

Manfaat Attacus atlas Bagi Manusia

Kepompong Attacus atlas dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan serat sutra. Kelebihan serat sutra ngengat ini adalah ukuran serat yang cukup panjang (mencapai 2.500 m/kepompong), kuat, lembut, tidak mudah kusut, tahan panas, tidak menimbulkan alergi, dan memiliki warna alami yang bervariasi, mulai dari coklat muda, coklat tua, dan keabu-abuan. Di India utara, kepompong Attacus atlas digunakan untuk membuat sutra yang tahan lama yang disebut Fagara Silk, sedangkan di Taiwan dibuat menjadi dompet saku. 

Sumber:

1.  Watson, A. & P.E.S. Whalley. 1983. The Dictionary of Butterflies and Moths in colour. Peerage Books: London. ISBN 0-907408-62-1

2.  Awan, A. 2007. Domestikasi ulat Sutera liar Attacus atlas (Lepidoptera: Saturniidae) dalam  usaha meningkatkan persuteraan nasional. Disertasi. Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

3.  Yiu, V. 2006. Insecta Hongkongica. Hong Kong Discovery: Hong Kong. 655pp. ISBN 988-97173-9-5

4.  Peigler, R.S. 1989. A Revision of the Indo-Australian Genus Attacus. The Lepidoptera Research Foundation: California.

5.  Kalshoven LGE.1981. Pests of Crops in Indonesia. PT Ichtiar Baru-Van Hoeve: Jakarta.

6.  Chapman, R. F. 1998. The Insects Structure and Function.4th edition. Cambridge University Press: United Kingdom.


Tulis Komentar

Komentar

Biodiversity Warriors 2.0 Copyright ©2014-2016 All Right Reserved. Design by Paragraph